Assalamu'alaikum wr.wb.
tak terasa ya malam sudah kian larut. ah tak masalah lah, yang penting happy :D (ngomong opo!)
kawan..ternyata hidup sederhana itu indah. Indah bangeeett, (lebay :D)
aku punya kisah. yaaa kisah itu merupakan proses data yang kuperoleh dari kerja empirikku, ini bernilai abstrak namun saling terikat dengan rohani. Dari kisah ini juga kita bisa sama-sama membangun "ontologi" yaitu pondasi, "epistemologi" sebagai dinding rumah, dan "aksiologi" sebagai atapnya. (waw, akibat depresi dengan filsafat, wkwkw ngefek banget :D) udahlah ngawurnya :D
suatu hari, aku melihat mahasiswa dan mahasiswi datang menuntut ilmu ke kampus. Aku yakin pasti sudut pandangku sama dengan sudut pandang mereka yang berstatus sama denganku. Coba bayangkan, bagaimana tanggapan saudara jika melihat orang yang kumuh, dekil, item, cupu, dan lainnya ? apakah saudaa akan berfikir bahwa mereka itu berasal dari kampung, bodoh, buta huruf, atau hal buruk lainnya ? (semoga saja kita semua tidak seperti itu ya, aamiiinn :)) nah, di sini saya ingin mengungkapkan fakta yang sebernarnya telah ditutupi dalam-dalam oleh mereka.
Aku mencoba untuk mengajak berdialog singkat dengan seorang mahasiswi di kampusku. "assalamu'alaikum mbak, kenalin aku fathaya." Diam namun pasti beliau menjawab, "wa'alaikum salam, namaku (bla bla bla)." mengajak bersalaman. Dialog terus terlontarkan dengan sendirinya dan ku selipkan pertanyaan, "di sini udah semester berapa mbak studinya?" tanyaku polos. "Alhamdulillah ini sedang nyusun skripsi S2." beliau melontarkan senyum. Aku terkejut, dan dengan dengan antusiasnya aku menjawab, "waw". Aku masih bertanya-tanya dalam diri tentang prestasi yang tengah disanding sekarang ini. Dan setelah panjang lebar kami bercerita, aku mendapatkan satu kunci yang kemudian bisa dijabarkan menjadi kunci-kunci yang lain. Jujur, dilihat dari keadaan fisik, beliau bisa dikatakan orang yang sangat, amat, sangat, sangat sederhana. Tidak memikirkan penampilannya, asalkan rapi dan bersih "it's oke" baginya. Dari cara beliau berbicara juga dapat dikatakan "appaluse" untuknya. saat berbicara saja sederhananya beliau sangat tampak. Dan hal dalam tindakan pun.
inilah yang dapt dikatakan sebagai "ontologi, epistemologi, dan aksilogi". Sederhana adalah pondasinya, sehingga dapat membangun dinding-dinding rumah yang terjaga dalam kesederhanaan, dan ditutup oleh pelengkapan atap untuk melindungi kesederhanaan. Tak perlu beria dalam panampilan, karena tidak dipertanyakan di akhirat. Biasanya orang yang mengerti arti kehidupan, pasti cenderung memilih hidup sederhana. Loh, mengapa demikian ? Karena hidup sederhana merupakan salah satu sikap untuk menghindari yang namanya "boros", "mubazir". Pasti saudara bisa membayangkan sendiri. Apa contoh kongkret dari sedehana. Hmm, ya tentunya sesuai dengan ajaran Al-Qur'an ean sunnah Rasulullah.
nah kawan, kesimpulannya adalah "Tuntutlah ilmu, bersikaplah sopan namun sederhana, itu adalah ciri orang yang bersyukur. Jangan pernah menilai orang dari luarnya saja, namun lihatlah dari ketulusan hatinya, kesederhanaanya, kesantunannya." Begitulah cara orang memandang dengan mata batiniyah, bukan dengan mata lahiriyah.
Semoga bermanfaat dan jika ada kesalahan mohon dimaafkan.
Kebenaran datangnnya dari Allah, dan kesalahan datangnya dari saya sendiri.
#loh, ini si fathaya ceramah aau gek ngopo sih? hahaha :D ketawa sendiri)
selamat menikmati istirahat malam.
dan..
Wassalamu'alaikum wr.wb
SEDERHANA (^_^)
00.30 |
Lokasi:
Yogyakarta, Indonesia
Langganan:
Posting Komentar (Atom)







0 komentar:
Posting Komentar